“Dari
Penonton Menjadi Pemain” itu salah satu klakar tentang dunia
perpolitikan.Selama ini terjadi kecenderungan dari berbagai gerakan demokrasi
untuk menghindar dari pertarungan politik praktis dengan para partai mainstream
melalui mekanisme politik yang berlaku
saat ini. Akibatnya telah nampak kita rasakan.
Delapan tahun Reformasi Negara kita berikan secara Cuma-Cuma kepada
kekuatan politik busuk pro-pasar bebas yang menguasai arena politik di Parlemen
baik pusat maupun Daerah. Para aktor Pro-Demokrasi mempunyai kecenderungan
meremehkan peluang-peluang legal politik, seperti pemilu dan pilkada di daerah
dan hanya puas berperan sebagai Pressure
group.
Keadaan
ini menyebabkan beberapa targetan dari transisi demokrasi tidak tercapai.
Gerakan Pro-demokrasi tetap berdiri dipinggiran panggung, dan radikalisme massa
yang sempat menguap hingga Fase keruntuhan Soeharto
yang akhirnya mengalami pelemahan. Mengapa defisit demokrasi bsa terjadi? Itu
karena aktivis idak terlibat dalam perjuangan politik dan memperkuat pranata
demokrasi yang sudah ada. Sehingga memberi ruang gerak bebas para pembajak
demokrasi untuk memnafaatkan semua alat politik yang ada untuk kepentngan Oligarki politiknya. Karena itu, Demos
merekomendasikan agar gerakan demokrasi
terlibat dalm proses politik yang berlangsung bukan diluarnya.
Demos
merekomendasikan Tiga hal penting
yaitu ; Pertama membangun sebuah Platform Politik demokratik,Kedua mempererat hubungan grakan sosial, Ketiga, Reformasi perangkat hukum dan
institusi demokrasi. (Joy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar