Barangkali
tak banyak yang tahu, November 2011 Makassar menjadi salah satu dari
Kabupaten/Kota yang mendapatkan penghargaan sebagai “Kota Sehat”. Entah
menggunakan indikator apa, sampai Oktober 2011 saja, 12 anak meninggal akibat
gizi buruk. Atau keluh warga tentang banjir dan sanitasi kota yang tak terurus.
Barangkali
tak banyak yang mencermati, pertumbuhan ekonomi Makassar 2011 mencapai 9,6%.
Para pejabat lalu bicara iklim investasi yang makin kondusif. Entah menggunakan
analisis apa, teriak resah warga tentang makin sempitnya lapangan kerja masih
nyaring terdengar. Atau tentang nafkah keluarga yang hanya cukup untuk sehari.
Penghargaan
dan data statistik di atas seolah mencederai akal sehat kita. Bagaimana hal ini
bisa berlangsung? Fakta lapangan gamblang memperlihatkan bermacam kesulitan
warga dalam mengakses hak-hak dasarnya. Pada sisi lain, data statistik
mengindikasikan kesejahteraan warga makin membaik, yang oleh pemerintah pusat
dihadiahi penghargaan istimewa.
Secara
akademis data tentu memegang peran penting, terutama sebagai dasar perencanaan.
Tapi meyerahkan segalanya pada data juga tanpa masalah, seringkali malah
menjadi pengecoh. Tak jarang akhirnya perencanaan dan intervensi lapangan luput
dari masalah faktual warga. Bukankah kenyataan faktual senantiasa dijadikan
alat verifikasi bagi data atau teori.
Dalam
kasus gizi buruk misalnya, perencanaan berbasis data terbukti mandul dalam
penyelesaian masalah. Secara sederhana setiap kebijakan hanya melihat warga
sebagai korban dan/atau bagian dari masalah. Posyandu yang selama ini menjadi
ujung tombak pemerintah tak mampu mengatasi kompleksitas persoalan warga.
Ada
baiknya penyelesaian masalah gizi buruk lebih berorientasi komunitas. Mengingat
masalah gizi buruk tidak melulu soal kesehatan, tapi meliputi beragam aspek. Sebab
dalam banyak kasus, tetangga atau warga sekitar berperan penting dalam penyelesaian
maasalah. Jika sebelumnya warga hanya menjadi korban/bagian dari masalah,
melalui pendekatan komunitas, warga menjadi bagian dari solusi.
Kekuatan
komunitas dan kerapatan sosial akan menjadi penentu dalam hal ini. Dengan ini
maka penyelesaian masalah gizi buruk lebih bersifat preventif (pencegahan). Tentu
saja pemerintah tak boleh melupakan tanggungjawabnya dalam memnuhi hak-hak
dasar warga, terutama dalam soal pangan. Sebab, sekompleks apapun persoalan
gizi buruk, sejatinya kejadian gizi buruk adalah karena asupan makanan yang
tidak tercukupi dalam waktu lama. Dan tanggung jawab pemerintah untuk
memastikan hal tersebut. (Bure)
menyaksikan beberapa kota, terguyur hujan, air meluap 'sungai temporer' bermunculan.
BalasHapusatau jangan jangan . . . air meluap naik ke jalanan . . . karena, di kota Jembatan dibangun terlalu tinggi . . . . . di kampung saya, dulu jembatan itu dibuat untuk menyeberang air yang dalam [biasanya sungai yang dibanguni jembatan penyeberangan]. ---------------------- nah di kota ini, yang kemungkinan sumber 'airnya' migrasi juga dari kampung - - - - air dari kampung ini, belum mengerti KASIAN, kalu jembatan dikota itu itu dibangun untuk penyeberangan jalan - - - - AIR KAMPUNG mengira jalan itu harus jadi sungai - - - karena ia tidak mau dituduh meninggalkan jauh di bawah jembatan . . . . . . kira kira begitu . . . . ya
kami kira begitu
BalasHapusmakanya banyak kasus jembatan jatuh, patah, roboh! Dan terkadang itu terjadi bukan karena ulah Air Kampung, tapi ulah yang merancang, menyusun anggarannya dan mengkorup biaya pembangunannya. Jadilah ia ambruk.